Rabu, 09 Desember 2009

DIALOG AWAL DAN AKHIR ( AKU DAN SAHABATKU)

SAHABAT

Kapan kamu mulia mengingat kematian?

Aku

Ah, jangan membahas itu menakutkan saja. Kita masih muda, masih banyak keinginan dan cita-cita yang ingin kita raih. Kita belum menikah, belum punya anak, belum punya mantu, dan belum punya cucu. Kita masih berada di garis awal, jalan kita masih panjang.

Sahabat

Apa dengan begitu kita tidak boleh mengingat mati?

Aku

Ya, boleh saja tapi aku takut

Sahabat

Kenapa kamu takut

Aku

Ya, karena yang kudengar saat ajal datang saat malaikat akan mencabut nyawa kita sakit terasa sakit. Ah, sejujurnya aku takut kehilangan hidup.

Sahabat

Bayanganmu tentang kematian menunjukkan seolah-olah kamu pernah merasakan mati. Teman, aku ingin mengajakmu berpikir sejenak, merencanakan agar saat ajal datang terasa nikmat bukan lagi sakit. Bukankah kamu belum pernah merasakannya? Kenapa harus percaya dengan yang ada. Aku ingin mengajakmu membuatnya berbeda.

Aku

Berbeda, berbeda bagaimana? Kita manusia biasa tentu akan sama merasakan mati. Apa maksudmu dengan berbeda itu?

Sahabat

Berbeda itulah yang tidak mudah. Karena dengan itu kita ingin menjadi manusia yang luar biasa. Jangkauannya ada di luar dari yang biasa. Jika kebanyakan orang memikirkan mati saat sudah tua, kebanyakan orang berpikir saat muda foya-foya tua masuk surga. Dapatkah kamu menerima hal ini? Mungkin saja orang pada umumnya akan berfikir saat muda menikmatii hidup di dunia, saat itua lah dia baru terfikir tentang surga, tentang kematian. Tidak pernahkah kita berfikir jika kematian tidak hanya mendatangi mereka yang sudah tua. Karena bayi yang baru lahir pun bisa langsung di jemput ajalnya. Atau pemuda yang baru berusia belasan tahun pun menemui ajalnya. Atau teman mahasiswaku yang baru saja lulus dan sedang menunggu wisuda ternyata tidak dapat menikmati hasil kuliahnya.

Aku

Iya, aku tahu itu karena aku sering mendengar dan melihatnya tidak hanya sekali atau dua kali. Tapi entahlah hal itu tidak bisa menyadarkanku. Atau mengilhamiku akan hikmah itu. Aku tidak tahu apakah memang harus dipirkan dan direncanakan kematian itu? Karena itu benar-benar di luar jangkauan kita manusia.

Sahabat

Ku pikir iya, jika kita selalu bisa dan berusaha merencanakan hidup dan masa depan kita, kenapa kita tidak merencaakan juga untuk kematiian kita dan kehidupannya. Bukankah kehidupan dunia juga sama abstraknya dengan kehidupan akhirat? Bukankah masa depan kita juga tak dapat kita prediksikan sama halnya dengan kematian?

Aku hanya ingin mengajakmu, jika kamu mau agar kita tidak terlambat dan menyesalinya. Kita hidup mati-matian beajar, bekerja, dan ingin mendapatkan mimpi-mimpi kita. Meskipun kita tidak tahu di mana sukses dan keberhasilan itu. Asal kita mau dan mampu berusaha lalu kita berdoa dan yakin akan hasil yang akan kita raih. Bisa jadi kita gagal karena yang kita sebut sukses adalah saat kenyatan berbanding lurus dengan harapan kita. Maka kita menyebut gagal saat harapan kita tidak berbanding lurus dengan kenyataan.

Dalam hidup kita mengenal kesuksesan dan kegagalan. Titik tengah yang menjembatani kedua hal itu adalah masalah. Penyikapan pada pemasalahan itulah sesunggunya kesuksesan. Bersikap wajar manakala kesuksesan datang, tidak menjadikan berbagangga diri manakala sukses datang, tidak menjadikan kita jauh dari Tuhan manakala sukses datang. Dan selebihnya tidak menjauhkan kita dengan realitas. Bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang mengharapkan kepedulian kita. Adanya mereka, orang-orang biasa itu yang memberi kita arti.

Aku

Lalu, bagaimana kita harus merencanakan kematian itu?

Sahabat

Teman, manakala kita telah meraih sukses dalam hidup ini, mari kita berfikir akan kesuksesan akhirat. Alangkah indahnya jika kita dapat berjalan pada titik keseimbangan. Berjalan di dunia ini untuk akhirat kita. Untuk orang-orang di sekitar kita. Jadikan kita adalah orang yang memberikan mereka rasa nyaman, bukan sebaliknya. Menjadi biasa saat kita adalah orang yang luar biasa, itu tidak mudah. Berapa kecil kesombongan akan menggoda kita. Menjadi biasa atas kebesaran kita atas ilmu dan harta kita juga tidak mudah. Selalu ada godaan. Tidak selalu ilmu dan harta menjaga kita, bisa jadi keduanya justru melenakan kita. Pada setiap jalan yang kita tempuh tiga hal yang tak pernah terlewat : hawa nafsu, ilmu, dan amal. Jika kita dapat menjaga keseimbangan diantara ketiga hal itu, semoga benar kita sedikit mempersiapkan bekal di akhirat.

Bukan apa-apa teman pencapaian tertinggi kita di dunia adalah kebermanfaatan kita. Wujud nyata dari keberadaan kita adalah kebermanfaatan kita. Memperbanyak amal kita, kebersihan niat dalam tiap hal yang kita lakukan. Persembahan terbaik kita Pertemuan dua titik yaang akan menghantarkan pada keabadian. Kekelan hidup di akhirat. Mungkin ini jalannya.

Terlintas bayangan surga yang indah, sebuah taman mengalir sungai-sungai yang di dalamnya terdapat kebun-kebun dan buah anggur, saat ku merasakan haus datanglah bidadari-bidadari yang bermata jeli itu menemaniku. Sampai aku tak tahu lagi kapan siang dan kapan datang malam, karena keindahanya tak mampu lagi aku cerna.

Sungguh berapa kali Allah memberikan iming-iming indah Nya surga, namun baru sedikit aku tergerak untuk meraihnya.

Ya Rabb, aku tak ingin neraka itu, sungguh aku tak sanggup jika aku harus meminum air yang mendidih dan nanah saat aku haus, atau aku terlempar dalam kobaran api yang menganga. Rabb, Ampuni kami, jika baru sebatas ini kami mampu mengingat akhirMu..

“Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepadaMu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu. Dan anugerahkanlah ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu, anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan, dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah baasan atas kami orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami dari orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami.

Ya Allah, jadikan umur terbaik kami di penghujungnya, jadikan amal terbaik kami dipenutupnya, jadikan hari-hari terbaik kami saat bertemu dengan-MU.

Amin..Amin..Amin.. Ya Rabbal’alamiin....

2 komentar:

  1. Ass, uraian anda telah mengubah status pikiran anda yang mungkin menjadi pikiran anda yang ada. Bahasa psikologinya, itulah salah satu usaha mewujudkan potensi menjadi faktual. Bahasa pendidikannya, itulah hakekat belajar. Maka renungkanlah. Amiin.

    BalasHapus
  2. Bahasa filsafatnya, aku telah melihat anda berada di situ karena anda telah berpikir. Ingatlah kata Descartes: cogito ergosum. Bahasa agamanya, berikhtiarlah karena itu juga kodrat Nya. Filsafat Jawanya, nek wis melek banjur melik. Nek wis melik banjur melok. Tembang Jawanya Mas Kumambang, anda terlihat seperti emas dan terapung-apung menarik perhatian, dikarenakan keberadaanmu atas pikiranmu. Amiin

    BalasHapus