Rabu, 16 Desember 2009

AKU DAN HATI NURANI

AKU
Rasa ini akan aku simpan dalam, dalam lubuk hati terdalam untuk menuju takdir selanjutnya. Tuhan, kali ini aku pasrahkan semua kepadaMu. Tentang rasa ini, harapan ini dan ketakutan-ketakutan yang menyelimutiku. Waktu ku saat ini kuhabiskan dalam batas penantian itu. Aku tahu, mungkin aku tak sesuci Rabi’ah Al-Adawiyah namun semampuku ingin aku persemabhkan jalan cintaku dalam batas cinta dan ketaatn padaNya. Hatiku berkecamuk aku resah,
Wahai hati nurani, tahukah Engkau kenapa Tuhan hadirkan ini untukku?
HATI NURANI
Hemm,,, setauku Tuhan hadirkan itu karena rasa cintaNya padamu.
Aku
Iya, tapi aku rasa bukan itu, aku tahu ibadahku belum apa-apa. Aku hanya mengerjakan sholat lima waktuku sebatasa aku menggugurkan kewajibanku, aku melaksanakan puasa Ramadhan, aku berzakatsemua itu masih sebatas kemampuanku menggugurkan kewajibanku. Aku belumlah dapat seperti Abu Bakar yang memberikan seluruh hartanya untuk mengabadikan diri di jalanNya. Terasa sempit dada ini, aku merasa semakin jauh. Lebi-lebih Tuhan hadirkan cinta ini untukku. Aku tak tahu nafsukah ini atau naluri?
Hati Nuani
Iya, aku tahu itu. Ku pikir Tuhan sangat mencintamu, karena itu ia hadirkan bentuk cinta yang lain. Atau bisa jadi Dia ingin menguji besanya cintamu padaNya seberapa besarkah cintamu untukNya. Benarkah apa yang selama ini kamu lakukan kau persembahkan untukNya? Atau jangan-jangan kau melakukan itu karena di depanmu ada dia yang kamu cinta dan memujimu. Tahukah kamu jika Tuhan cemburu?
Aku
Kenapa masih cemburu, aku telah bersusah payah melakukan semua yang Dia cinta, namun masih saja Tuhan belum percaya. Astagfirullah, maafkan aku ya Rabb, namun sungguh aku ingin berlepas dari rasa ini...
Rasa yang membuatku merasa kehilanganMu...aku merasa kehilanganMu ya Rabb, di setiap sepertiga malam dalam lantunan doa dan tangis aku tak lagi merasakan kehadiranMu. Hampa sudah terasa,
Rabb, aku mencintaiMu...
Hati Nurani
Bersabarlah....janganlah kau terlalu menyalahkan dirimu apalagi menyalahkanNya. Tetapkan hatimu, kuatkan setiap langkahmu, yakinlah tak ada sesuatupun yang buruk yang Dia hadirkan untukMu. Karena sesungguhnya Diapun ingin tahu sejauh mana kesungguhanmu mencintainya..seberapa besar kau dapat tetap dalam iman dan keyakinan padaNya jika hawa nafsu menyelimutimu...
Aku
Apa benar itu maksudnya? Aku begitu gelisah, hari-hariku begitu absurd. Berada pada dua titik anatara rasaku padanya dan kecintaanku padaNya. Aku merasa jauh dariNya menikmati hari-hariku meskipun resah selalu ada. Aku merasa malu dengan diriku..
Rabb, jika boleh aku meminta aku ingin bentuk cinta yang lain...
Cinta yang membuatku dekat denganMu, orang yang aku cintai juga mencintai dan dicintaiMu. Mungkin dengan ini jalan yang ku tempuh lebih mudah, tak serumit ini.
Hati Nurani
Bersabarlah yakinlah kau akan segera melewatinya,
Jika sabar dan sholat menjadi penolongmu aku yakin Tuhan akan semakin mencintaimu.
Aku dan Cinta
Iya, tapi aku rasa itu tidak mudah, bersabar terasa berat...
Kali ini pertarungan cinta dan hawa nafsu membuatku gelisah.
Ada pertarungan yang hebat, betapa kuatnya aku tetap ingin dalam ketaatan padaMu, menghabiskan malam-malam dalam munajah kepadaMu, aku merasa dekat denganMu. Tapi kali ini terasa hilang semua itu. Meski aku masih menghabiskan malam dalam munajah kepadaMu, tapi aku rasa tidak seeperti dulu. Benarkah kali ini Engkau tak datang saat aku menangis dalam bait doa yang kupanjatkan?
Hati Nurani
Cobalah memulai dengan haimu yang bersih dengan penuh ketaatan dan kepasrahan padanNya, lepaskan segala yang membuatmu tak benar-benar bergantung padaNya...
Hadirkan dirimu dalam ruang yang kosong...
Aku
Terima kasih wahai hati nurani, betapa kau benar-benar selalu menjagaku...
Hati Nurani
Aku hanya ingin kau tak lagi jauh dariNya,
Aku
Terima kasih ya Rabb, sujud syukurku padaMU.
“ Ya Allah, sesungguhnya ini adalah malam (siang) Mu yang telah menjelang dan siang (malam) Mu yang tengah berlalu, serta suara-suara dari para penyeru Mu, maka ampunilah aku. Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya keepada-Mu, beremu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu dan berjanji setia untuk membela agama-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup,. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu . hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan penolong.

BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT

BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT
BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT
BAHASA SEHAT
Aku masih ingat saat pertama kali pahlawan kita memperjuangkan bahasa Indonesia. Tanggal 17 Oktober tepatnya aku disyahkan menjadi bahasa Indonesia, bahasa kesatuan bangsa indonesia. Susah betul perjuang pahlawan kita, Muh Tabrin waktu itu yang datang memimpin kongres, lalu presiden Soekarno yang memproklamasikan. Begitu bangganya aku menjadi bahasa kesatuan negeri ini.
Bertahun-tahun sudah aku menjadi bahasa pemersatu, bangsaku begitu Indah nan elok. Ada beragam suku bangsa dengan berbagai bahasa. Aku hadir untuk menyatukan perbedaan itu. Hebatnya aku.
Kemarin aku baru tahu tentang seberapa hebatnya aku. Pak Samsuri pernah menyampaikan, jika fungsi utamaku adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Sebagai sistem tanda yang arbirter konvensional beliau menamaiku. Maksudnya arbirter katanya suatu ketika adalah aku datang semauku, tanpa ada aturan-aturan kenapa aku menamai kayu yang menjulang tinggi dengan daun-daun adalah pohon. Meskipun begitu aku hadir dengan konvensional, dengan kesepakatan-kesepakatan orang-orang di sekitarku. Seperti saat bahasa Indonesia di syahkan sebagai bahasa kesatuan, bangsa ini. Begitulah mungkin sederhananya aku memaknai.
Tapi lambat laun, seiring waktu datang dan zaman terus berkembang, penjajahan di negeriku ini datang lagi. Kali ini Indonesiaku di jajah begitu hebatnya. Jika dulu kita sempat di jajah Belanda dan Inggris. Dengan senjata dan bom di mana-mana, sedang kita waktu itu hanya bisa melawan dengan bambu runcing, tapi hebatnya kita menang!
Sekarang di abad ke-20 ini, aku merasakan berat betul. Hingga banyak dari rakyat bangsa ini tak merasakan lagi jika kita saat ini sedang di jajah. Di jajah kepribadiannya, di jajah gaya hidupnya, di jajag pemikirannya, dan juga di jajah bahasanya.
BAHASA SAKIT
Aku tidak terima jika dikatakan aku adalah penjajah bahasamu. Aku datang dengan fungsi yang sama, dengan kesepaktan yang sama. Fungsiku adalah untuk berkomunikasi juga, aku datang dengan kesepakatan-kesepakatan juga. Orang yang menggunakan bahasaku tentu telah bersepakat bahwa aku ada. Toh aku tidak datang untuk mengusikmu, kenapa harus mengatakanku sebagai penjajah?
BAHASA SEHAT
Iya, baiklah. Asal kau tahu saja, jika kehadiranmu benar-benar mengusikku. Lihat saja, generasi muda bangsaku, mereka mulai bangga menjauhiku dan begitu bangganya saat menggunakan bahasa baru mu itu.
Apa aku masih tidak boleh mengatakan jika kau telah menjajahku, menjajah bangsaku, generasi muda harapan bangsa ini. Jika mereka saja tak lagi bangga dengan bahasa ku, bahasa Indonesia kapan mereka juga akan bangga dengan bahasa ini?

BAHASA SAKIT
Maaf, aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Baiklah, aku sedikit mengerti, bolehkah aku mengusulkan satu hal?
BAHASA SEHAT
Maksudmu?
BAHASA SAKIT
Kalo boleh aku meminta, biarkan aku ada dan kamu ada. Aku berjanji tak akan mengusikmu, bagaimana?
BAHASA SEHAT
Tetap saja tidak bisa, aku benar-benar memintamu untuk pergi. Biarkan aku ada, aku hanya ingin melihat bangsa ini utuh dan bersatu. Biarkan generasi muda bangsa ini berlatih dan berbangga diri dengan bangsa ini.
Mendidik mereka memaknai hal besar, bahwa bangsa Indonesia telah berjuang begitu kerasnya agar bangsa ini tetap utuh.
Aku hanya punya harapan dengan mereka, generasi mudaku.
Jika aku biarkan mereka menggunkan bahasa mu, bahasa “gaul” itu aku takut mereka kehilangan jati diri. Mereka kehilangan identitas sebagai penerus dan harapan bangsa ini. Aku kasihan melihatnya, bertahun-tahun bangsa ini telah bertahan, jika saat ini berbegai negara asing ikut-ikut mengatur bangsaku ini, ingin merebut dengan perlahan, dan generasi mudaku juga ikut-ikutan tak sadar, bagaimana jadinya?
Bisa jadi hilang sudah bangsaku.
BAHASA SAKIT
Baiklah aku akan berusaha menyingkir dari hadapanmu, meski aku tak dapat memastikan kapan aku benar-benar hilang darimu. Karena bisa jad mereka sudah terlanjur menyukaiku dan tak ingin kehilanganku. Mungkin jika mereka sudah bosan, aku akan di buang, tapi jika menunggu mereka bosan, bisa lama jadinya.
Aku ada saran untukmu, cobalah bilang pada presiden kita usulkan “gerakan pembersih bahsa”
BAHASA SEHAT
Apa itu? Begini, aku lihat dulu presiden Soekerno juga dengan tegas memproklamasikan bahasa Indonesia buktinya dulu bisa. Padahal kondisinya tidak jauh berbeda, bukankah sudah dari dulu jika bangsa Indonesai memiliki berjuta-juta bahasa? Nah begitu maksudku.
BAHASA SEHAT
Iya, betul terima kasih atas saranmu. Tapi begini, karena sekarang berbeda dengan dulu. Dulu kita tidak punya TV apalagi internet. Tapi sekarang? Arus globalisasi terasa betul,,,
BAHASA SAKIT
maksudmu, apa mereka yang telah menjajahmu?
BAHASA SEHAT
Iya, meskipun tidak secara langsung, coba lihat, apa yang dilakukan orang Top di televisi? Kebanyakan dari mereka adalah artis. Apa yang mereka berikan untuk bangsa ini? Gaya hidup bukan?
BAHASA SAKIT
Iya, betul.
Iya aku tahu, betapa susahnya sekarang, tapi cobalah pertimbangkan usulku tadi. Cobalah bicarakan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono katakan apa yang menjadi kegelisahanmu. Siapa tahu jika dengan cara yang di tempuh bahasamu yang dulu itu, pak Soekarno bisa menyatukan kembali apa yang menjadi keresahanmu.
BAHASA SEHAT
Baiklah, terima kasih aku akan mencobanya.

Rabu, 09 Desember 2009

HAKIKAT DIRI

Kali ini aku merasakan betul apa yang dinamakan kehilangan itu. Aku rasakan kehilangan kali ini, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melupakannya. Tujuh tahun sudah aku menjalani kebersamaan dengannya, suka duka, sedih, senang, kesal, bahagia menjadi warna hari-hari dan kebersamaan yang kami miliki. Jarang sekali kami meributkan sesuatu. Kalo pun ada biasanya datang dariku yang tidak sabar menunggunya. Sesuatu yang kadang membuatku kesal, ia sering terlambat datang jika sudah berjanji bertemu denganku. Sekali waktu aku sabar menantinya, meski sering dengan rasa kesal. Namun sedikit kekesalan ini tidak berlangsung lama. Hanya sebentar dan berakhir degan pemakluman yang nyata. Karena aku pun sering membuatnya kesal.

Saat-saat bersamanya aku banyak belajar hidup. Keberanian menghadapi segala situasi, kesederhanaan hidup yang ia jalani dan kebaikan-kebaikan yang ia miliki. Satu hal yang sangat kuat melekat dihatiku adalah tentang keikhlasnya memaafkan. Suatu ketika aku melihatnya menangis karena teman satu kampusnya menuduhnya berbuat sesuatu yang tidak ia lakukan. Mendengar ceritanya aku marah dan ingin melawan, minimal berbuat hal sama. Namun, bukan itu yang ia inginkan, setelah selesai bercerita dan menghapus air matanya, dia berkata aku tak ingin melewatkan mendoakan temanku itu dalam setiap rakaat yang aku dirikan. Aku terdiam sejenak. Dan tak dapat berkata apapun. Pertanda aku setuju sekaligus aku malu.

Ia sungguh ringan tangan, tahun 2004 saat terjadi stunami di Aceh Ia begitu bersemangat untuk menjadi relawan. Padahal aku tahu tim medis tempat Ia mendaftarkan sebagai relawan hanya terdapat dua perempuan, satu diantaranya adalah dia. Sebelumnya dia sudah menandatangini bentuk kesepakatan-kesepakatan saat menjadi relawan terkait dengan resiko yang harus ditanggung. Dan resiko terbesar adalah nyawa. Aku merinding saat mendengarkan kesepakatan itu. Namun begitu mudah dan beraninya ia menandatangani kesepakatan itu. Setelah mendapat ijin dan doa dari ibunya dia berangkat.

Satu bulan dia menjadi relawan. Pulang hanya dengan satu baju yang ia pakai. Aku bertanya di mana barangmu, dia tak menjawab dan hanya tersenyum. Saat sampai di kost, aku membuka almarinya, berharap masih ada sisa baju yang tertinggal. Ternyata nihil, dia benar-benar memberikan semua yang ia miliki dan pulang dengan sehelai baju yang melekat. Aku terdiam dan tersenyum begitu bangga aku memiliki teman sepertinya.

Tahun-tahun kami menghabiskan waktu bersama, seringkali dia berkata dan mengulang-ulang amal apa yang akan kita persembahkan untuk akhirat nanti. Kita harus punya amal unggulan yang akan memperingan hisab kita nanti. Kita tinggal memilih, setelah penjagaan pada yang wajib, maka kita pilih yang sunah. Bisa puasa, bisa sholat, bisa sodakoh, atau amalan-amalan kebaikan kita untuk orang lain. Kita harus punya itu, katanya berulang-ulang.

Suatu ketika dia pun pernah bertanya bagaimana rasanya saat ajal datang? Aku terdiam dan hanya mendengarkan, dia melanjutkan katanya begitu sakit. Mah, sapanya kita harus sering-sering mengingat mati, agar kita bisa mempersembahkan saat-saat terindah bertemu denganNya.

Dengan itu semua Ia menjadi pribadi yang benar luar biasa, ia memiliki banyak amal unggulan, sejak tahun 2005 dia sudah memulai puasa Daud, menjaga sholat lailnya, seperti tak pernah ia lewatkan, sholat Dhuha, sesempit apa pun waktu, ia akan berusaha menunaikannya. Dan kewajiban terhadap hartanya, dia adalah orang yang sangat dermawan, seperti yang kuceritakan tadi.

Waktu tujuh tahun begitu singkat. Karena setelah kami lulus ia akan kembali ke pulang ke kampung halaman. Cita-cita yang sejak dulu ada di benaknya. Ia akan membangun desa, memberi kontribusi nyata untuk masyarakat. Namun kesempatan itu tak lama rupanya, sejak tahun 2008 bulan November kembali ke desa, dan tepat tanggal 22 November 2009 Allah memanggilnya. Betapa aku teramat sedih dan begitu bangga. Ia benar-benar di panggil dengan cara yang indah, hari itu hari kamis, ia pulang dengan angkutan umum, karena ia lebih mendahulukan temannya, maka sepeda motor yang ia punya ia pinjamkan ke temannya yang rumahnya lebih jauh dan sulit terjangkau. Pulang setelah mengisi pengajian, dan masih dalam kondisi berpuasa sunnah, ajal datang menjemputnya. Sebuah sepeda motor menabraknya saat dia baru saja turun dari angkot.

Tak kuasa air mataku menangis tak dapat berkata apa pun saat mendengarnya. Aku tak dapat melihat saat terakhir ia ada. Karena jarak tempuh Jogja-Banten cukup jauh, aku datang ke rumahnya dan hanya melihat ia terkubur di pembaringan.

Sangat sederhana namun begitu berat.

Beratus-ratus orang, keluarga, teman, saudara dan masyarakat yang ia cintai begitu kehilangan. Dan hingga hari ini sosoknya menjadi sumber inspirasi orang-orang yang pernah mengenalnya. Sampai hari ini pun sms sering masuk ke hp ku, bercerita tentang sahabatku memi. Mengeluhkan karena ia benar-benar merasa kehilangan.

Mungkin dari sinilah aku sekarang mulai belajar memaknai hidup dan kehidupan. Bahwa pencapaian-pencapaian prestasi yang kita miliki di dunia akan lenyap seketika saat ajal itu datang. Dan baik buruknya kita siapa kita sesungguhnya akan terlihat bagaimana kita mengakhiri hidup kita.

Pemaknaan yang mendalam akan diri kita adalah titik tengah antara pencapaian dunia dan akhirat kita. Saat pencapaian dapat berjalan seimbang, kebermaknaan tentu akan terasa.

Huwallahu’alam

DIALOG AWAL DAN AKHIR ( AKU DAN SAHABATKU)

SAHABAT

Kapan kamu mulia mengingat kematian?

Aku

Ah, jangan membahas itu menakutkan saja. Kita masih muda, masih banyak keinginan dan cita-cita yang ingin kita raih. Kita belum menikah, belum punya anak, belum punya mantu, dan belum punya cucu. Kita masih berada di garis awal, jalan kita masih panjang.

Sahabat

Apa dengan begitu kita tidak boleh mengingat mati?

Aku

Ya, boleh saja tapi aku takut

Sahabat

Kenapa kamu takut

Aku

Ya, karena yang kudengar saat ajal datang saat malaikat akan mencabut nyawa kita sakit terasa sakit. Ah, sejujurnya aku takut kehilangan hidup.

Sahabat

Bayanganmu tentang kematian menunjukkan seolah-olah kamu pernah merasakan mati. Teman, aku ingin mengajakmu berpikir sejenak, merencanakan agar saat ajal datang terasa nikmat bukan lagi sakit. Bukankah kamu belum pernah merasakannya? Kenapa harus percaya dengan yang ada. Aku ingin mengajakmu membuatnya berbeda.

Aku

Berbeda, berbeda bagaimana? Kita manusia biasa tentu akan sama merasakan mati. Apa maksudmu dengan berbeda itu?

Sahabat

Berbeda itulah yang tidak mudah. Karena dengan itu kita ingin menjadi manusia yang luar biasa. Jangkauannya ada di luar dari yang biasa. Jika kebanyakan orang memikirkan mati saat sudah tua, kebanyakan orang berpikir saat muda foya-foya tua masuk surga. Dapatkah kamu menerima hal ini? Mungkin saja orang pada umumnya akan berfikir saat muda menikmatii hidup di dunia, saat itua lah dia baru terfikir tentang surga, tentang kematian. Tidak pernahkah kita berfikir jika kematian tidak hanya mendatangi mereka yang sudah tua. Karena bayi yang baru lahir pun bisa langsung di jemput ajalnya. Atau pemuda yang baru berusia belasan tahun pun menemui ajalnya. Atau teman mahasiswaku yang baru saja lulus dan sedang menunggu wisuda ternyata tidak dapat menikmati hasil kuliahnya.

Aku

Iya, aku tahu itu karena aku sering mendengar dan melihatnya tidak hanya sekali atau dua kali. Tapi entahlah hal itu tidak bisa menyadarkanku. Atau mengilhamiku akan hikmah itu. Aku tidak tahu apakah memang harus dipirkan dan direncanakan kematian itu? Karena itu benar-benar di luar jangkauan kita manusia.

Sahabat

Ku pikir iya, jika kita selalu bisa dan berusaha merencanakan hidup dan masa depan kita, kenapa kita tidak merencaakan juga untuk kematiian kita dan kehidupannya. Bukankah kehidupan dunia juga sama abstraknya dengan kehidupan akhirat? Bukankah masa depan kita juga tak dapat kita prediksikan sama halnya dengan kematian?

Aku hanya ingin mengajakmu, jika kamu mau agar kita tidak terlambat dan menyesalinya. Kita hidup mati-matian beajar, bekerja, dan ingin mendapatkan mimpi-mimpi kita. Meskipun kita tidak tahu di mana sukses dan keberhasilan itu. Asal kita mau dan mampu berusaha lalu kita berdoa dan yakin akan hasil yang akan kita raih. Bisa jadi kita gagal karena yang kita sebut sukses adalah saat kenyatan berbanding lurus dengan harapan kita. Maka kita menyebut gagal saat harapan kita tidak berbanding lurus dengan kenyataan.

Dalam hidup kita mengenal kesuksesan dan kegagalan. Titik tengah yang menjembatani kedua hal itu adalah masalah. Penyikapan pada pemasalahan itulah sesunggunya kesuksesan. Bersikap wajar manakala kesuksesan datang, tidak menjadikan berbagangga diri manakala sukses datang, tidak menjadikan kita jauh dari Tuhan manakala sukses datang. Dan selebihnya tidak menjauhkan kita dengan realitas. Bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang mengharapkan kepedulian kita. Adanya mereka, orang-orang biasa itu yang memberi kita arti.

Aku

Lalu, bagaimana kita harus merencanakan kematian itu?

Sahabat

Teman, manakala kita telah meraih sukses dalam hidup ini, mari kita berfikir akan kesuksesan akhirat. Alangkah indahnya jika kita dapat berjalan pada titik keseimbangan. Berjalan di dunia ini untuk akhirat kita. Untuk orang-orang di sekitar kita. Jadikan kita adalah orang yang memberikan mereka rasa nyaman, bukan sebaliknya. Menjadi biasa saat kita adalah orang yang luar biasa, itu tidak mudah. Berapa kecil kesombongan akan menggoda kita. Menjadi biasa atas kebesaran kita atas ilmu dan harta kita juga tidak mudah. Selalu ada godaan. Tidak selalu ilmu dan harta menjaga kita, bisa jadi keduanya justru melenakan kita. Pada setiap jalan yang kita tempuh tiga hal yang tak pernah terlewat : hawa nafsu, ilmu, dan amal. Jika kita dapat menjaga keseimbangan diantara ketiga hal itu, semoga benar kita sedikit mempersiapkan bekal di akhirat.

Bukan apa-apa teman pencapaian tertinggi kita di dunia adalah kebermanfaatan kita. Wujud nyata dari keberadaan kita adalah kebermanfaatan kita. Memperbanyak amal kita, kebersihan niat dalam tiap hal yang kita lakukan. Persembahan terbaik kita Pertemuan dua titik yaang akan menghantarkan pada keabadian. Kekelan hidup di akhirat. Mungkin ini jalannya.

Terlintas bayangan surga yang indah, sebuah taman mengalir sungai-sungai yang di dalamnya terdapat kebun-kebun dan buah anggur, saat ku merasakan haus datanglah bidadari-bidadari yang bermata jeli itu menemaniku. Sampai aku tak tahu lagi kapan siang dan kapan datang malam, karena keindahanya tak mampu lagi aku cerna.

Sungguh berapa kali Allah memberikan iming-iming indah Nya surga, namun baru sedikit aku tergerak untuk meraihnya.

Ya Rabb, aku tak ingin neraka itu, sungguh aku tak sanggup jika aku harus meminum air yang mendidih dan nanah saat aku haus, atau aku terlempar dalam kobaran api yang menganga. Rabb, Ampuni kami, jika baru sebatas ini kami mampu mengingat akhirMu..

“Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepadaMu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu. Dan anugerahkanlah ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu, anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan, dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah baasan atas kami orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami dari orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami.

Ya Allah, jadikan umur terbaik kami di penghujungnya, jadikan amal terbaik kami dipenutupnya, jadikan hari-hari terbaik kami saat bertemu dengan-MU.

Amin..Amin..Amin.. Ya Rabbal’alamiin....