Kali ini aku merasakan betul apa yang dinamakan kehilangan itu. Aku rasakan kehilangan kali ini, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melupakannya. Tujuh tahun sudah aku menjalani kebersamaan dengannya, suka duka, sedih, senang, kesal, bahagia menjadi warna hari-hari dan kebersamaan yang kami miliki. Jarang sekali kami meributkan sesuatu. Kalo pun ada biasanya datang dariku yang tidak sabar menunggunya. Sesuatu yang kadang membuatku kesal, ia sering terlambat datang jika sudah berjanji bertemu denganku. Sekali waktu aku sabar menantinya, meski sering dengan rasa kesal. Namun sedikit kekesalan ini tidak berlangsung lama. Hanya sebentar dan berakhir degan pemakluman yang nyata. Karena aku pun sering membuatnya kesal.
Saat-saat bersamanya aku banyak belajar hidup. Keberanian menghadapi segala situasi, kesederhanaan hidup yang ia jalani dan kebaikan-kebaikan yang ia miliki. Satu hal yang sangat kuat melekat dihatiku adalah tentang keikhlasnya memaafkan. Suatu ketika aku melihatnya menangis karena teman satu kampusnya menuduhnya berbuat sesuatu yang tidak ia lakukan. Mendengar ceritanya aku marah dan ingin melawan, minimal berbuat hal sama. Namun, bukan itu yang ia inginkan, setelah selesai bercerita dan menghapus air matanya, dia berkata aku tak ingin melewatkan mendoakan temanku itu dalam setiap rakaat yang aku dirikan. Aku terdiam sejenak. Dan tak dapat berkata apapun. Pertanda aku setuju sekaligus aku malu.
Ia sungguh ringan tangan, tahun 2004 saat terjadi stunami di Aceh Ia begitu bersemangat untuk menjadi relawan. Padahal aku tahu tim medis tempat Ia mendaftarkan sebagai relawan hanya terdapat dua perempuan, satu diantaranya adalah dia. Sebelumnya dia sudah menandatangini bentuk kesepakatan-kesepakatan saat menjadi relawan terkait dengan resiko yang harus ditanggung. Dan resiko terbesar adalah nyawa. Aku merinding saat mendengarkan kesepakatan itu. Namun begitu mudah dan beraninya ia menandatangani kesepakatan itu. Setelah mendapat ijin dan doa dari ibunya dia berangkat.
Satu bulan dia menjadi relawan. Pulang hanya dengan satu baju yang ia pakai. Aku bertanya di mana barangmu, dia tak menjawab dan hanya tersenyum. Saat sampai di kost, aku membuka almarinya, berharap masih ada sisa baju yang tertinggal. Ternyata nihil, dia benar-benar memberikan semua yang ia miliki dan pulang dengan sehelai baju yang melekat. Aku terdiam dan tersenyum begitu bangga aku memiliki teman sepertinya.
Tahun-tahun kami menghabiskan waktu bersama, seringkali dia berkata dan mengulang-ulang amal apa yang akan kita persembahkan untuk akhirat nanti. Kita harus punya amal unggulan yang akan memperingan hisab kita nanti. Kita tinggal memilih, setelah penjagaan pada yang wajib, maka kita pilih yang sunah. Bisa puasa, bisa sholat, bisa sodakoh, atau amalan-amalan kebaikan kita untuk orang lain. Kita harus punya itu, katanya berulang-ulang.
Suatu ketika dia pun pernah bertanya bagaimana rasanya saat ajal datang? Aku terdiam dan hanya mendengarkan, dia melanjutkan katanya begitu sakit. Mah, sapanya kita harus sering-sering mengingat mati, agar kita bisa mempersembahkan saat-saat terindah bertemu denganNya.
Dengan itu semua Ia menjadi pribadi yang benar luar biasa, ia memiliki banyak amal unggulan, sejak tahun 2005 dia sudah memulai puasa Daud, menjaga sholat lailnya, seperti tak pernah ia lewatkan, sholat Dhuha, sesempit apa pun waktu, ia akan berusaha menunaikannya. Dan kewajiban terhadap hartanya, dia adalah orang yang sangat dermawan, seperti yang kuceritakan tadi.
Waktu tujuh tahun begitu singkat. Karena setelah kami lulus ia akan kembali ke pulang ke kampung halaman. Cita-cita yang sejak dulu ada di benaknya. Ia akan membangun desa, memberi kontribusi nyata untuk masyarakat. Namun kesempatan itu tak lama rupanya, sejak tahun 2008 bulan November kembali ke desa, dan tepat tanggal 22 November 2009 Allah memanggilnya. Betapa aku teramat sedih dan begitu bangga. Ia benar-benar di panggil dengan cara yang indah, hari itu hari kamis, ia pulang dengan angkutan umum, karena ia lebih mendahulukan temannya, maka sepeda motor yang ia punya ia pinjamkan ke temannya yang rumahnya lebih jauh dan sulit terjangkau. Pulang setelah mengisi pengajian, dan masih dalam kondisi berpuasa sunnah, ajal datang menjemputnya. Sebuah sepeda motor menabraknya saat dia baru saja turun dari angkot.
Tak kuasa air mataku menangis tak dapat berkata apa pun saat mendengarnya. Aku tak dapat melihat saat terakhir ia ada. Karena jarak tempuh Jogja-Banten cukup jauh, aku datang ke rumahnya dan hanya melihat ia terkubur di pembaringan.
Sangat sederhana namun begitu berat.
Beratus-ratus orang, keluarga, teman, saudara dan masyarakat yang ia cintai begitu kehilangan. Dan hingga hari ini sosoknya menjadi sumber inspirasi orang-orang yang pernah mengenalnya. Sampai hari ini pun sms sering masuk ke hp ku, bercerita tentang sahabatku memi. Mengeluhkan karena ia benar-benar merasa kehilangan.
Mungkin dari sinilah aku sekarang mulai belajar memaknai hidup dan kehidupan. Bahwa pencapaian-pencapaian prestasi yang kita miliki di dunia akan lenyap seketika saat ajal itu datang. Dan baik buruknya kita siapa kita sesungguhnya akan terlihat bagaimana kita mengakhiri hidup kita.
Pemaknaan yang mendalam akan diri kita adalah titik tengah antara pencapaian dunia dan akhirat kita. Saat pencapaian dapat berjalan seimbang, kebermaknaan tentu akan terasa.
Huwallahu’alam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar