Rabu, 16 Desember 2009

BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT

BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT
BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT
BAHASA SEHAT
Aku masih ingat saat pertama kali pahlawan kita memperjuangkan bahasa Indonesia. Tanggal 17 Oktober tepatnya aku disyahkan menjadi bahasa Indonesia, bahasa kesatuan bangsa indonesia. Susah betul perjuang pahlawan kita, Muh Tabrin waktu itu yang datang memimpin kongres, lalu presiden Soekarno yang memproklamasikan. Begitu bangganya aku menjadi bahasa kesatuan negeri ini.
Bertahun-tahun sudah aku menjadi bahasa pemersatu, bangsaku begitu Indah nan elok. Ada beragam suku bangsa dengan berbagai bahasa. Aku hadir untuk menyatukan perbedaan itu. Hebatnya aku.
Kemarin aku baru tahu tentang seberapa hebatnya aku. Pak Samsuri pernah menyampaikan, jika fungsi utamaku adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Sebagai sistem tanda yang arbirter konvensional beliau menamaiku. Maksudnya arbirter katanya suatu ketika adalah aku datang semauku, tanpa ada aturan-aturan kenapa aku menamai kayu yang menjulang tinggi dengan daun-daun adalah pohon. Meskipun begitu aku hadir dengan konvensional, dengan kesepakatan-kesepakatan orang-orang di sekitarku. Seperti saat bahasa Indonesia di syahkan sebagai bahasa kesatuan, bangsa ini. Begitulah mungkin sederhananya aku memaknai.
Tapi lambat laun, seiring waktu datang dan zaman terus berkembang, penjajahan di negeriku ini datang lagi. Kali ini Indonesiaku di jajah begitu hebatnya. Jika dulu kita sempat di jajah Belanda dan Inggris. Dengan senjata dan bom di mana-mana, sedang kita waktu itu hanya bisa melawan dengan bambu runcing, tapi hebatnya kita menang!
Sekarang di abad ke-20 ini, aku merasakan berat betul. Hingga banyak dari rakyat bangsa ini tak merasakan lagi jika kita saat ini sedang di jajah. Di jajah kepribadiannya, di jajah gaya hidupnya, di jajag pemikirannya, dan juga di jajah bahasanya.
BAHASA SAKIT
Aku tidak terima jika dikatakan aku adalah penjajah bahasamu. Aku datang dengan fungsi yang sama, dengan kesepaktan yang sama. Fungsiku adalah untuk berkomunikasi juga, aku datang dengan kesepakatan-kesepakatan juga. Orang yang menggunakan bahasaku tentu telah bersepakat bahwa aku ada. Toh aku tidak datang untuk mengusikmu, kenapa harus mengatakanku sebagai penjajah?
BAHASA SEHAT
Iya, baiklah. Asal kau tahu saja, jika kehadiranmu benar-benar mengusikku. Lihat saja, generasi muda bangsaku, mereka mulai bangga menjauhiku dan begitu bangganya saat menggunakan bahasa baru mu itu.
Apa aku masih tidak boleh mengatakan jika kau telah menjajahku, menjajah bangsaku, generasi muda harapan bangsa ini. Jika mereka saja tak lagi bangga dengan bahasa ku, bahasa Indonesia kapan mereka juga akan bangga dengan bahasa ini?

BAHASA SAKIT
Maaf, aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Baiklah, aku sedikit mengerti, bolehkah aku mengusulkan satu hal?
BAHASA SEHAT
Maksudmu?
BAHASA SAKIT
Kalo boleh aku meminta, biarkan aku ada dan kamu ada. Aku berjanji tak akan mengusikmu, bagaimana?
BAHASA SEHAT
Tetap saja tidak bisa, aku benar-benar memintamu untuk pergi. Biarkan aku ada, aku hanya ingin melihat bangsa ini utuh dan bersatu. Biarkan generasi muda bangsa ini berlatih dan berbangga diri dengan bangsa ini.
Mendidik mereka memaknai hal besar, bahwa bangsa Indonesia telah berjuang begitu kerasnya agar bangsa ini tetap utuh.
Aku hanya punya harapan dengan mereka, generasi mudaku.
Jika aku biarkan mereka menggunkan bahasa mu, bahasa “gaul” itu aku takut mereka kehilangan jati diri. Mereka kehilangan identitas sebagai penerus dan harapan bangsa ini. Aku kasihan melihatnya, bertahun-tahun bangsa ini telah bertahan, jika saat ini berbegai negara asing ikut-ikut mengatur bangsaku ini, ingin merebut dengan perlahan, dan generasi mudaku juga ikut-ikutan tak sadar, bagaimana jadinya?
Bisa jadi hilang sudah bangsaku.
BAHASA SAKIT
Baiklah aku akan berusaha menyingkir dari hadapanmu, meski aku tak dapat memastikan kapan aku benar-benar hilang darimu. Karena bisa jad mereka sudah terlanjur menyukaiku dan tak ingin kehilanganku. Mungkin jika mereka sudah bosan, aku akan di buang, tapi jika menunggu mereka bosan, bisa lama jadinya.
Aku ada saran untukmu, cobalah bilang pada presiden kita usulkan “gerakan pembersih bahsa”
BAHASA SEHAT
Apa itu? Begini, aku lihat dulu presiden Soekerno juga dengan tegas memproklamasikan bahasa Indonesia buktinya dulu bisa. Padahal kondisinya tidak jauh berbeda, bukankah sudah dari dulu jika bangsa Indonesai memiliki berjuta-juta bahasa? Nah begitu maksudku.
BAHASA SEHAT
Iya, betul terima kasih atas saranmu. Tapi begini, karena sekarang berbeda dengan dulu. Dulu kita tidak punya TV apalagi internet. Tapi sekarang? Arus globalisasi terasa betul,,,
BAHASA SAKIT
maksudmu, apa mereka yang telah menjajahmu?
BAHASA SEHAT
Iya, meskipun tidak secara langsung, coba lihat, apa yang dilakukan orang Top di televisi? Kebanyakan dari mereka adalah artis. Apa yang mereka berikan untuk bangsa ini? Gaya hidup bukan?
BAHASA SAKIT
Iya, betul.
Iya aku tahu, betapa susahnya sekarang, tapi cobalah pertimbangkan usulku tadi. Cobalah bicarakan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono katakan apa yang menjadi kegelisahanmu. Siapa tahu jika dengan cara yang di tempuh bahasamu yang dulu itu, pak Soekarno bisa menyatukan kembali apa yang menjadi keresahanmu.
BAHASA SEHAT
Baiklah, terima kasih aku akan mencobanya.

3 komentar:

  1. Ass. aku menyaksikan bahasa sehat dirimu di dalam kesadaranmu. Amiin

    BalasHapus
  2. Aku tengok ke sana maka aku temukan bahasaku dalam ruang dan waktu. Jikalau aku hilangkan ruang dan waktu itu maka lenyap pula bahasaku beserta diriku. Bahasaku itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada, dan ternyata masih tetap berada dalam ruang dan waktu. Anehnya aku menemukan bahwa ruang dan waktu itu ternyata bahasaku juga. Ketika kesadaranku akan ruang dan waktu menurun ternyata kesalahan bahasaku menaik. Ketika kesadaran ruang dan waktuku menaik ternyata kesalahan bahasaku menurun. Jadi aku telah menemukan fungsi kesalahan bahasaku itu berbanding terbalik dengan kesadaran ruang dan waktuku. Sedangkan hatiku telah hadir untuk menjawab apakah kesalahanku itu rendah, tinggi, kecil, besar, di dalam pikiranku, di dalam hatiku, di luar diriku, atau di luar kesadaranku? Maka uraianku atas semuanya itulah pengetahuan dan filsafat ku. Jadi aku menemukan filsafatku itu tercerai berai di antara bahasa-bahasaku.

    BalasHapus
  3. Bapak, terimakasih akhirnya mendapat "ilmu" lagi dari bpk..
    bukan sedang membangun mitos, tapi meninggalkan kuliah filsafsat terasa berat.
    Bpk memberikan kami dengan cara yang berbeda.
    sungguh luar biasa, terima kasih bpk,,,
    semoga ruang dan waktu juga tidak memberikan batas untuk tetap bertukaar ilmu, tentunya ysaya yang akan belajar banyak dari Bpk,

    BalasHapus