Rabu, 16 Desember 2009

AKU DAN HATI NURANI

AKU
Rasa ini akan aku simpan dalam, dalam lubuk hati terdalam untuk menuju takdir selanjutnya. Tuhan, kali ini aku pasrahkan semua kepadaMu. Tentang rasa ini, harapan ini dan ketakutan-ketakutan yang menyelimutiku. Waktu ku saat ini kuhabiskan dalam batas penantian itu. Aku tahu, mungkin aku tak sesuci Rabi’ah Al-Adawiyah namun semampuku ingin aku persemabhkan jalan cintaku dalam batas cinta dan ketaatn padaNya. Hatiku berkecamuk aku resah,
Wahai hati nurani, tahukah Engkau kenapa Tuhan hadirkan ini untukku?
HATI NURANI
Hemm,,, setauku Tuhan hadirkan itu karena rasa cintaNya padamu.
Aku
Iya, tapi aku rasa bukan itu, aku tahu ibadahku belum apa-apa. Aku hanya mengerjakan sholat lima waktuku sebatasa aku menggugurkan kewajibanku, aku melaksanakan puasa Ramadhan, aku berzakatsemua itu masih sebatas kemampuanku menggugurkan kewajibanku. Aku belumlah dapat seperti Abu Bakar yang memberikan seluruh hartanya untuk mengabadikan diri di jalanNya. Terasa sempit dada ini, aku merasa semakin jauh. Lebi-lebih Tuhan hadirkan cinta ini untukku. Aku tak tahu nafsukah ini atau naluri?
Hati Nuani
Iya, aku tahu itu. Ku pikir Tuhan sangat mencintamu, karena itu ia hadirkan bentuk cinta yang lain. Atau bisa jadi Dia ingin menguji besanya cintamu padaNya seberapa besarkah cintamu untukNya. Benarkah apa yang selama ini kamu lakukan kau persembahkan untukNya? Atau jangan-jangan kau melakukan itu karena di depanmu ada dia yang kamu cinta dan memujimu. Tahukah kamu jika Tuhan cemburu?
Aku
Kenapa masih cemburu, aku telah bersusah payah melakukan semua yang Dia cinta, namun masih saja Tuhan belum percaya. Astagfirullah, maafkan aku ya Rabb, namun sungguh aku ingin berlepas dari rasa ini...
Rasa yang membuatku merasa kehilanganMu...aku merasa kehilanganMu ya Rabb, di setiap sepertiga malam dalam lantunan doa dan tangis aku tak lagi merasakan kehadiranMu. Hampa sudah terasa,
Rabb, aku mencintaiMu...
Hati Nurani
Bersabarlah....janganlah kau terlalu menyalahkan dirimu apalagi menyalahkanNya. Tetapkan hatimu, kuatkan setiap langkahmu, yakinlah tak ada sesuatupun yang buruk yang Dia hadirkan untukMu. Karena sesungguhnya Diapun ingin tahu sejauh mana kesungguhanmu mencintainya..seberapa besar kau dapat tetap dalam iman dan keyakinan padaNya jika hawa nafsu menyelimutimu...
Aku
Apa benar itu maksudnya? Aku begitu gelisah, hari-hariku begitu absurd. Berada pada dua titik anatara rasaku padanya dan kecintaanku padaNya. Aku merasa jauh dariNya menikmati hari-hariku meskipun resah selalu ada. Aku merasa malu dengan diriku..
Rabb, jika boleh aku meminta aku ingin bentuk cinta yang lain...
Cinta yang membuatku dekat denganMu, orang yang aku cintai juga mencintai dan dicintaiMu. Mungkin dengan ini jalan yang ku tempuh lebih mudah, tak serumit ini.
Hati Nurani
Bersabarlah yakinlah kau akan segera melewatinya,
Jika sabar dan sholat menjadi penolongmu aku yakin Tuhan akan semakin mencintaimu.
Aku dan Cinta
Iya, tapi aku rasa itu tidak mudah, bersabar terasa berat...
Kali ini pertarungan cinta dan hawa nafsu membuatku gelisah.
Ada pertarungan yang hebat, betapa kuatnya aku tetap ingin dalam ketaatan padaMu, menghabiskan malam-malam dalam munajah kepadaMu, aku merasa dekat denganMu. Tapi kali ini terasa hilang semua itu. Meski aku masih menghabiskan malam dalam munajah kepadaMu, tapi aku rasa tidak seeperti dulu. Benarkah kali ini Engkau tak datang saat aku menangis dalam bait doa yang kupanjatkan?
Hati Nurani
Cobalah memulai dengan haimu yang bersih dengan penuh ketaatan dan kepasrahan padanNya, lepaskan segala yang membuatmu tak benar-benar bergantung padaNya...
Hadirkan dirimu dalam ruang yang kosong...
Aku
Terima kasih wahai hati nurani, betapa kau benar-benar selalu menjagaku...
Hati Nurani
Aku hanya ingin kau tak lagi jauh dariNya,
Aku
Terima kasih ya Rabb, sujud syukurku padaMU.
“ Ya Allah, sesungguhnya ini adalah malam (siang) Mu yang telah menjelang dan siang (malam) Mu yang tengah berlalu, serta suara-suara dari para penyeru Mu, maka ampunilah aku. Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya keepada-Mu, beremu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu dan berjanji setia untuk membela agama-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup,. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu . hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan penolong.

2 komentar:

  1. Ass..Sdr Siti Salamah..setidaknya anda telah menguraikan jarak antara dirimu dan hatimu. Maka uraianmu itulah sebenar-benar ilmumu. Tetapi aku masih menemukan jara-jarak yang lain. Jarak antara hatiku dan doaku, jarak pikiranku dan doa ku, jarak hatiku dan pikiranku, jarak diriku dan Tuhan ku. Maka setinggi-tinggi filsafatmu adalah ekstensi pemahamanmu akan jarak-jarak itu?

    BalasHapus
  2. apakah jarak itu juga yang memberikan batas pemahamanku, akan diriku?
    pemahamanku akan hakikat penghambaanku?
    terima kasih Bpk,

    BalasHapus